(0362) 92380
gerokgak@bulelengkab.go.id
Kecamatan Gerokgak

World Cleanup Day 2026: Dari Piring Bersih Menuju Gerokgak yang Bersih dan Berkelanjutan

Admin gerokgak | 14 September 2026 | 256 kali

World Cleanup Day 2026: Dari Piring Bersih Menuju Gerokgak yang Bersih dan Berkelanjutan

Oleh: Putu Dony Sugiartha, SH

(Sekretaris Kecamatan Gerokgak)


World Cleanup Day (WCD) yang diperingati setiap tanggal 20 September merupakan momentum global untuk membangun kesadaran dan aksi nyata masyarakat dalam menjaga kebersihan serta mengelola sampah secara berkelanjutan. Pada tahun 2026, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengangkat tema “From Clean Plates to Clean Cities” atau “Dari Piring Bersih Menuju Kota yang Bersih”. Tema ini memberikan penekanan khusus pada persoalan sampah makanan (food waste) sekaligus mendorong perubahan pola konsumsi, pengurangan sampah dari sumbernya, pemanfaatan kembali makanan yang masih layak, serta pengelolaan sampah organik secara lebih baik.

Tema global tersebut sangat relevan jika dikaitkan dengan kondisi lingkungan di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Gerokgak memiliki wilayah yang luas dengan karakter lingkungan yang beragam, mulai dari kawasan permukiman, pertanian, perkebunan, kawasan pesisir hingga objek-objek

yang memiliki nilai sosial, budaya dan keagamaan. Persoalan kebersihan karena itu tidak hanya berkaitan dengan keberadaan sampah di jalan atau tempat umum, tetapi juga menyangkut bagaimana masyarakat mengurangi, memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah tangga.

Dalam beberapa waktu terakhir, Pemerintah Kecamatan Gerokgak telah melakukan berbagai langkah nyata, pada 11 September 2026 telah dilaksanakan World Cleanup Day di kawasan Pantai Pulaki, Desa Banyupoh dengan melibatkan pemerintah, TNI, Polri, Pemerintah Desa, siswa dan masyarakat. Kegiatan tersebut difokuskan pada pengumpulan dan pemilahan sampah, khususnya sampah plastik di kawasan pesisir.

Langkah tersebut semakin diperkuat melalui sosialisasi pengelolaan sampah berbasis sumber pada 10 September 2026. Pemerintah Kecamatan Gerokgak bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng mendorong agar pemilahan sampah dilakukan mulai dari rumah tangga, dengan Kelian Banjar Dinas sebagai salah satu ujung tombak edukasi kepada masyarakat.

Hal yang tidak kalah penting adalah mengubah paradigma bahwa World Cleanup Day bukan sekadar kegiatan memungut sampah. Bersih-bersih merupakan langkah awal, sedangkan tujuan yang lebih besar adalah membangun budaya hidup bersih dan bertanggung jawab terhadap sampah.

Dalam konteks tema 2026, masyarakat Gerokgak perlu mulai melihat bahwa sampah makanan dari rumah tangga, warung, pasar, kegiatan adat dan agama, serta kegiatan sosial juga merupakan bagian dari persoalan lingkungan. Apa yang dapat dilakukan di Kecamatan Gerokgak?

Beberapa langkah konkret yang dapat dikembangkan antara lain:

1. Memperkuat pemilahan sampah dari sumber. Setiap rumah tangga, kantor, sekolah, pasar, tempat usaha dan fasilitas umum perlu membiasakan pemisahan sampah organik, anorganik dan residu.

2. Mengurangi sampah makanan (food waste). Masyarakat didorong mengambil makanan secukupnya, mengolah kembali makanan yang masih layak, serta menghindari membuang makanan secara

berlebihan. Kegiatan hajatan, rapat, upacara adat dan kegiatan keagamaan juga dapat menerapkan prinsip konsumsi pangan yang lebih bijaksana.

3. Mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sampah organik dapat diarahkan untuk kompos, pakan tertentu, atau pengolahan organik lainnya sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.

4. Memperkuat bank sampah dan ekonomi sirkular. Sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan Kembali, dengan demikian, kebersihan sekaligus dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

5. Menjadikan sekolah sebagai pusat perubahan perilaku. Sekolah-sekolah di Kecamatan Gerokgak dapat membangun kebiasaan membawa tempat makan dan minum sendiri, mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah serta melakukan edukasi tentang food waste kepada siswa.

6. Melibatkan Desa Adat, Banjar, PKK dan kelompok masyarakat. Persoalan sampah tidak dapat diselesaikan pemerintah sendiri. Kekuatan gotong royong masyarakat, Desa Adat, Banjar, PKK, pemuda dan kelompok keagamaan perlu diarahkan menjadi gerakan kebersihan yang dilakukan secara rutin.

7. Menjaga kawasan pesisir dan Sungai. Pengalaman aksi bersih di Pantai Pulaki dan kegiatan bersih-bersih Tukad Gerokgak menunjukkan bahwa kawasan pesisir dan sungai perlu menjadi prioritas.

Sebelumnya Kecamatan Gerokgak juga melaksanakan aksi bersih sungai sebagai bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

World Cleanup Day 2026 hendaknya menjadi momentum bagi Kecamatan Gerokgak untuk bergerak dari “membersihkan sampah” menuju “mencegah timbulnya sampah”. Perubahan tersebut dimulai dari hal sederhana: mengambil makanan secukupnya, tidak membuang makanan, membawa wadah yang dapat digunakan kembali, memilah sampah dari rumah, serta menjaga lingkungan sekitar.

Dengan demikian, semangat “From Clean Plates to Clean Cities” dapat diterjemahkan dalam konteks lokal menjadi “Dari Rumah Tangga Bersih, Menuju Desa Bersih, dan Gerokgak yang Bersih, Sehat dan Berkelanjutan.”

Keberhasilan World Cleanup Day bukan diukur dari berapa banyak sampah yang berhasil dikumpulkan dalam satu hari, tetapi dari seberapa banyak sampah yang berhasil dicegah, dipilah, dimanfaatkan kembali, dan dikelola setelah kegiatan tersebut berakhir. Inilah yang perlu menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat Kecamatan Gerokgak.

Dari Gerakan Bersih Menjadi Budaya Bersih